Kopi Wamena     Pemasaran     Informasi     Hubungi Kami

Impian Untuk Mengunjungi Wamena

Oleh: Ayos Purwoaji

Sudah sejak kanak saya memiliki impian untuk mengunjungi Wamena. Hal itu berkaitan dengan pekerjaan ayah saya, seorang peneliti kopi yang sering pergi keluar-masuk hutan dan memberdayakan petani di daerah terpencil. Ia kerap mondar-mandir ke Wamena, yang dikenal sebagai salah satu penghasil kopi spesial (specialty coffee) terbaik di Indonesia. Setiap kembali dari tugas, beliau membawakan saya cerita tentang kemasyhuran Lembah Baliem serta Suku Dani yang hidup di daratannya. Tak lupa pula ia membelikan saya oleh-oleh berupa tifa dan kapak batu, jenis buah tangan yang paling umum dijumpai di Wamena.

Dan akhirnya, pada bulan Oktober yang lalu, saya bisa menjejakkan kaki di Wamena. Sejak berada di dalam pesawat twin otter yang membawa saya dari Jayapura, saya sudah membayangkan Wamena yang elok. Daerah pada ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut ini memiliki kontur tanah yang bergunung-gunung. Ia seperti mangkok kosong yang dikelilingi oleh perbukitan. Sungai Baliem sendiri melintasi kota ini dengan anggun, terselip diantara lembah yang berkelok-kelok.

 Karena berada di daerah yang cukup tinggi, maka jaket dan baju hangat adalah perlengkapan wajib yang harus dibawa para pelancong ketika berada di sana. Masuk sebagai bagian dari Kabupaten Jayawijaya, suhu normal di Wamena pada siang hari ada di kisaran 28 derajat Celsius. Namun, pada malam hari, temperatur bisa turun hingga 19 derajat Celsius.

Jaket tebal berlapis sweater adalah pakaian kebesaran saya selama di Wamena. Apalagi jika harus melewatkan malam di daerah pegunungan yang memiliki suhu lebih rendah. Pakaian yang saya sandang bisa semakin berlapis-lapis. Namun, saya heran ketika menyaksikan Suku Dani, yang hidup di sepanjang Lembah Baliem, bisa bertahan dalam udara seperti ini hanya dengan mengenakan koteka sebagai ‘pakaian’.

Saya yang sudah terbiasa dengan udara panas Surabaya, merasa udara malam di Wamena sudah cukup dingin untuk membekukan otak. Untungnya, segelas kopi Wamena panas menjadi penyelamat dari udara membekukan, yang bikin badan menggigil sejak maghrib. 

Kopi di Wamena memiliki rasa dan tektur yang otentik. Tidak kalah istimewa dengan jenis specialty coffee lain seperti kopi Flores, Toraja, dan Aceh Gayo. Tapi, kopi bukan satu-satunya kuliner wajib yang bisa dicicipi di Wamena. Udang selingkuh van Baliem adalah jenis makanan yang harus dicoba ketika berkunjung ke Wamena. Jenis lobster air dengan ukuran di atas rata-rata udang biasa ini endemik. Spesies itu tidak bisa ditemukan di tempat lain selain di Sungai Baliem. Selama seminggu di Wamena, saya sudah merasakan setidaknya dua jenis varian masakan yang memakai udang selingkuh sebagai bahan utamanya: digoreng pedas dan udang asam manis.

Disebut udang selingkuh karena bentuknya unik. Ia memiliki tubuh berbuku-buku seperti udang biasa, namun memiliki dua capit besar layaknya kepiting. Orang setempat mengira udang raksasa ini adalah hasil selingkuh lintas spesies antara udang biasa dan kepiting. Tentu saja ini hanyalah lelucon lokal yang sering disebut mop. Suku-suku yang tinggal di sepanjang Sungai Baliem menangkap udang ini melalui suatu perburuan. “Sebab kalo sudah diternakkan rasanya akan berubah, tidak gurih lagi,” ujar Bang Herman, pemandu lokal saya selama di Wamena. Suku-suku ini biasanya berburu udang dengan dipancing atau dijaring.

Memang pola hidup tradisional masih sangat terjaga di Wamena. Anda bisa atur dalam itinerary Anda kunjungan ke kampung-kampung Suku Dani yang banyak tersebar di pinggiran kota Wamena. Saya sendiri sempat menyambangi beberapa kampung seperti Suroba, Hulesi, Kurima, Jiwika, dan Obiah. Masing-masing kampung memiliki pesona khas. Contohnya, mumi tradisional di Kampung Jiwika. Jenis mumi ini tak mengadopsi mumifikasi a la Mesir, yang memakai sistem balsam. Suku Dani di Kampung Jiwika membuat mumi dengan cara mengasapi jasad mati selama dua ratus hari. Pada hari terakhir, jasad tadi akan menghitam dengan kulit dan otot yang lumer seperti aspal. Di Jiwika, saya menyaksikan jasad mumi Wim Motok Mabel yang berumur 275 tahun. Ia adalah seorang ksatria tangguh pada zamannya. Sedangkan kampung lain yang memiliki mumi adalah Aikima dan Wo’ogi.

Jika beruntung, Anda bisa mendapatkan atraksi upacara bakar batu (pig feast) yang terkenal itu di salah satu desa Suku Dani. Ini adalah atraksi yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain di Indonesia. Upacara bakar batu adalah sebuah tata cara memasak purba yang masih bertahan hingga hari ini. Melihat upacara bakar batu di Kampung Obiah membuat saya seolah kembali ke masa prasejarah pada ribuan tahun lampau, jauh sebelum George B. Simpson menemukan sistem hot-plate pada tahun 1859.

Daging babi dan hipere (ketela rambat) adalah dua jenis makanan yang diproses menggunakan metode bakar batu. Caranya, batu-batu panas yang sudah dibakar di atas kayu selama beberapa jam sebelumnya dimasukkan ke dalam cekungan tanah yang sudah dilapisi dedaunan keladi. Selanjutnya, babi dan hipere di antara bebatuan membara tersebut dan didiamkan sekitar satu jam. Setelah matang, potongan daging dan ketela tadi dibagikan pada seluruh penduduk desa. Semua mendapatkan jatah yang sama. Begitu pula barisan balita Suku Dani yang kegirangan mendapatkan sekerat daging bakar tersebut. Mereka tersenyum pada saya sembari kesusahan mengunyah daging yang terasa alot di mulut-mulut kecil dengan barisan gigi susu.

Sumber : http://www.travelxpose.com